Semarang —Universitas Diponegoro (Undip) terus memperkuat perannya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui pengembangan dan implementasi Nature-Based Solutions (NbS), sebuah pendekatan inovatif yang menempatkan ekosistem sebagai solusi utama bagi ketahanan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Inisiatif ini dikembangkan oleh tim peneliti interdisipliner UNDIP, yang diketuai oleh Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati sekaligus sebagai Founder CPalim (Cluster for Paleolimnology) UNDIP. Riset ini berfokus pada ekosistem pesisir, danau, daerah aliran sungai (DAS), dan perubahan iklim. Yang membedakan, masyarakat lokal dilibatkan sebagai mitra aktif dan co-innovator, mulai dari tahap perencanaan hingga pemeliharaan, seperti di Desa Bedono, Demak, dan kawasan Danau Rawapening.
UNDIP mengimplementasikan Nature-Based Solutions sebagai pendekatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis ekosistem dan komunitas. Di pesisir Demak, inovasi dilakukan melalui restorasi mangrove berbasis komunitas dengan pendekatan hybrid engineering untuk meredam abrasi, menahan sedimen, dan mengurangi dampak rob.
Sementara itu, di Danau Rawapening—yang dikembangkan sebagai living laboratory sejak 2020—NbS diterapkan melalui restorasi ekosistem danau dan daerah tangkapan air, pengelolaan vegetasi akuatik secara sirkular, rehabilitasi sempadan danau, serta pemulihan sungai inlet dan rawa.
Pendekatan NbS memiliki keunggulan utama berupa manfaat ganda (co-benefits). Upaya aksi iklim tidak hanya menurunkan risiko bencana, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, NbS terbukti lebih cost-effective, berkelanjutan, dan selaras dengan kebijakan nasional, termasuk Permen LHK Nomor 12 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kontribusi Indonesia dalam Penanganan Perubahan Iklim.
Implementasi NbS memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Secara ekologis, NbS meningkatkan ketahanan ekosistem terhadap banjir, abrasi, kekeringan, serta berfungsi sebagai penyerap karbon alami melalui mangrove, sedimen danau, dan vegetasi perairan.
Dari sisi sosial dan ekonomi, pendekatan ini mendukung mata pencaharian berkelanjutan, seperti perikanan dan ekowisata, sekaligus memperkuat kapasitas dan kemandirian masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.
Inovasi NbS UNDIP berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 13: Climate Action, serta mendukung SDGs 6 (Air Bersih), SDGs 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), SDGs 14 (Ekosistem Perairan), dan SDGs 15 (Ekosistem Daratan).
Melalui integrasi dan kolaborasi riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat, Direktorat Inovasi dan Kerja Sama (Dirinovki) UNDIP turut mendukung dan memastikan bahwa solusi berbasis alam tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi mampu menghilirkan hasil riset serta menghasilkan dampak nyata dan berkelanjutan. Pendampingan masyarakat, penguatan kapasitas lokal, serta pengembangan living laboratory menjadi kunci hilirisasi riset NbS UNDIP.
Upaya ini sejalan dengan nilai “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat”, di mana ilmu pengetahuan hadir sebagai solusi nyata bagi ketangguhan manusia dan lingkungan.