Prof. Agus Trianto, ST, MSc, PhD,
SEMARANG – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip berhasil mengembangkan inovasi teknologi hijau bernama PELITA (Pemanfaatan Limbah Tambak Udang untuk Pertanian). Inovasi ini menjadi solusi konkret atas permasalahan pencemaran lingkungan yang kerap dihasilkan dari aktivitas budidaya udang intensif.
Pencemaran limbah kulit udang meliputi pencemaran air (kadar oksigen menurun, nutrisi berlebih, bau busuk), pencemaran udara (bau amonia dan senyawa volatil), serta dampak ekologis seperti pertumbuhan mikroorganisme berbahaya dan gangguan pada biota air, terutama jika dibuang langsung ke badan air tanpa pengolahan, karena kandungan protein, kitin, dan senyawa organik lainnya akan membusuk dan mencemari lingkungan

Tim Inovasi PELITA FPIK Undip mengubah limbah tambak udang menjadi pupuk berkualitas tinggi. (2026)
Proyek riset yang berjalan selama dua tahun ini fokus pada pengolahan limbah tambak yang kaya akan bahan organik, namun limbah ini berisiko menjadi sarang patogen jika tidak dikelola dengan benar. Melalui sentuhan teknologi fermentasi, limbah yang semula berbahaya kini disulap menjadi Pupuk Organik Cair (POC) berkualitas tinggi.
Pengembangan PELITA melibatkan lima tahapan riset yang komprehensif, mulai dari karakterisasi limbah hingga pengujian efektivitas pada tanaman. Inti dari inovasi ini adalah penggunaan mikroba Thiobacter dalam proses fermentasi.
“Proses fermentasi ini berfungsi untuk menurunkan senyawa berbahaya dalam limbah sekaligus meningkatkan unsur hara esensial seperti Nitrogen (N) dan Sulfur (S). Hasilnya, limbah yang tadinya menghambat pertumbuhan tanaman kini justru memicu laju pertumbuhan tanaman jagung secara signifikan dibandingkan pupuk biasa,” ungkap tim pengembang PELITA.

Limbah tambak udang yang awalnya merusak lingkungan kini justru menumbuhkan tanaman jagung lebih cepat.
Kesuksesan inovasi PELITA tidak lepas dari sinergi kuat antara akademisi Undip dan sektor industri. PT Dua
Putra Perkasa hadir sebagai mitra strategis yang mendukung penuh proses hilirisasi riset ini, mulai dari penyediaan data lapangan hingga dukungan teknis operasional. Mitra menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk mewujudkan industri perikanan yang berkelanjutan. Dengan adanya PELITA, industri tidak hanya menekan risiko pencemaran air, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar, khususnya petani.
PELITA merupakan inovasi yang ditemukan oleh Prof. Agus Trianto, ST, MSc, PhD bersama. Beliau adalah pakar ilmu kelautan sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip. Kepakaran beliau tercermin melalui berbagai publikasi ilmiah mengenai jamur asosiasi spons, senyawa antimikroba baru dari organisme laut, serta pemanfaatan isolat mikroba untuk meningkatkan produktivitas akuakultur.
Melalui novasi yang mengubah limbah perairan menjadi sumber daya (waste to resource), Undip terus berkomitmen dalam mendukung kemandirian pangan (SDGs 2), perwujudan ekonomi sirkular (SDGs 12) dan sekaligus kontribusi dalam menjaga ekosistem perairan (SDGs 14). PELITA ini akan dikembangkan melalui kerja sama lintas disiplin untuk mencapai tujuan bersama (SDGs 17). “Bersama hilirisasi riset, kita ciptakan dampak nyata untuk Indonesia yang lebih baik,” tutup Prof. Agus Trianto.
drh. Dian Wahyu Harjanti, PhD, Direktur Direktorat Inovasi dan Kerja Sama (DIRINOVKI) Undip menyampaikan apresiasi kepada tim inventor dan terima kasih kepada PT Dua Putra Perkasa sebagai mitra, atas inovasi yang berkontribusi pada penanganan isu global lingkungan. “DIRINOVKI siap mengawal setiap inovasi Undip, dengan memberikan dukungan berupa layanan HKI Paten dan Non-paten, akselerasi kerja sama, fasilitas pameran, untuk mendorong komersialisasi dan dampak riset bagi masyarakat.”, ujar Direktur DIRINOVKI Undip.