Prof. Dr. M. Djaeni, ST, MEng
Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi riset melalui pengembangan teknologi pengering gabah hybrid berbasis udara berkelembapan rendah dengan pemanas surya–biomassa. Inovasi ini dirancang untuk mempercepat proses pengeringan gabah secara efisien, stabil, dan ramah lingkungan, sekaligus menjaga kualitas hasil panen di tengah tantangan anomali cuaca.

Keunggulan alat pengering gabah hybrid UNDIP tersebut antara lain:
- Mendukung ketahanan pangan nasional
Menjadi solusi strategis pascapanen di tengah perubahan iklim dan anomali cuaca. - Proses pengeringan lebih cepat dan merata
Menggunakan udara berkelembapan rendah (dehumidifikasi) dengan kolom zeolit atau silika gel, sehingga penyerapan air dari gabah jauh lebih efektif. - Menjaga kualitas gabah
Pengeringan dapat dilakukan pada suhu lebih rendah dan stabil, sehingga kualitas gabah kering giling tetap terjaga dan tidak mudah rusak. - Efisien energi dan ramah lingkungan
Memanfaatkan pemanas hybrid surya–biomassaserta sistem udara terkontrol, sehingga hemat energi dan mengurangi emisi karbon. - Dapat digunakan di berbagai kondisi cuaca
Tidak bergantung sepenuhnya pada sinar matahari, sehingga tetap optimal meskipun cuaca tidak menentu. - Desain portable dan fleksibel
Dilengkapi sasis beroda dan sistem penarik, mudah dipindahkan ke lahan pertanian, termasuk daerah terpencil yang belum memiliki akses listrik. - Kapasitas beragam dan skala besar
Tersedia versi bed dryerdengan kapasitas hingga 000 kg per batch, cocok untuk kebutuhan petani dan kelompok tani. - Operasional lebih aman dan hemat tenaga kerja
Dilengkapi mekanisme hidrolikyang memudahkan proses pengeluaran gabah kering, mempercepat bongkar muat, dan mengurangi risiko kerja. - Mengurangi susut hasil pascapanen
Gabah menjadi lebih kering dan stabil, sehingga kehilangan hasil dapat ditekan dan nilai jual gabah petani meningkat.
Teknologi tersebut dikembangkan oleh Prof. Dr. Moh. Djaeni bersama tim lintas institusi dan mitra industri. Keunggulan utama alat ini terletak pada sistem dehumidifikasi menggunakan zeolit atau silika gel yang mampu menurunkan kelembapan udara sebelum pemanasan, sehingga proses pengeringan berlangsung lebih cepat dan merata pada suhu rendah. Sumber panas berasal dari biomassa dengan aliran udara terkontrol, menjadikannya hemat energi dan berkelanjutan.
Pengering gabah ini tersedia dalam model portable yang mudah dipindahkan ke lahan pertanian terpencil tanpa akses listrik, serta unit bed dryer berkapasitas besar hingga 2.000 kg per batch yang dilengkapi mekanisme hidrolik untuk meningkatkan efisiensi bongkar muat dan keselamatan kerja. Inovasi ini didukung oleh Hibah Program RIKUB 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Universitas Diponegoro melalui Direktorat Inovasi dan Kerja Sama juga telah bekerja sama dengan Direktorat Hilirisasi dan Organisasi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi turut mendukung hasil inovasi Pengering Gabah tersebut yang telah mendampatkan Bantuan Pendanaan Program Hilirisasi Hasil Riset Prioritas – Skema Dorongan Teknologi Tahun 2025, dengan Tim Pengkaji dari Politeknik Negeri Kediri.
Selain pengering gabah, Prof. Djaeni juga mengembangkan teknologi pengeringan pangan berkelanjutan berbasis udara kering untuk berbagai komoditas serta konsep smart food, yakni pangan bernutrisi tinggi dengan pelepasan energi lambat. Seluruh risetnya berorientasi pada ketahanan pangan, efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Melalui inovasi ini, Direktorat Inovasi dan Kerja Sama Undip berkomitmen mendorong hilirisasi riset, memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan nilai jual hasil pertanian petani, serta membangun ekosistem pertanian modern yang mandiri, efisien, dan berdaya saing global.