Prof. Ir. Didi Dwi Anggoro, M.Eng., Ph.D., IPU, ASEAN Eng.
SEMARANG – Universitas Diponegoro (Undip) kembali menunjukkan komitmennya dalam kontribusi pengelolaan limbah berkelanjutan melalui inovasi teknologi tepat guna. Tim peneliti Undip yang dipimpin oleh Prof. Didi Dwi Anggoro berhasil mengembangkan alat pengolahan limbah plastik melalui metode pirolisis katalitik yang menghasilkan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan nilai oktan RON 96, termasuk dalam kategori BBM beroktan tinggi/BBM Non-subsidi.
Teknologi ini hadir sebagai jawaban atas tantangan global terkait sampah plastik yang sulit terurai. Bertempat di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Undip, alat ini dirancang untuk memproses berbagai jenis limbah plastik, mulai dari styrofoam, kantong kresek, hingga bungkus makanan ringan, menjadi energi yang bermanfaat.
Keunggulan utama DIPOFuel ini terletak pada sistem pemanas hybrid yang fleksibel. “Kami menggunakan dua sumber energi pemanas, yakni oli bekas dan gas LPG. Penggunaan oli bekas membantu menekan biaya operasional, sementara gas LPG menjamin proses tetap berjalan kontinu meski terjadi kendala listrik,” ujar Prof. Didi. Keunggulan lainnya adalah Zero Waste (Nol Sampah) dimana proses pirolisis ini menghasilkan tiga produk utama:
- BBM Cair (Liquid): Mencapai rendemen hingga 60%, siap digunakan sebagai alternatif bahan bakar.
- Gas: Gas yang dihasilkan dialirkan kembali sebagai energi pemanas reaktor.
- Wax (Lilin): Residu berupa lilin dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan paving block.

Kapasitas Produksi Skala Besar Alat yang dikembangkan bersama tim DIPOFuel Undip dan para mahasiswa ini memiliki kapasitas operasional yang cukup besar. Dalam satu hari, alat ini mampu mengolah hingga 700 kg sampah plastik secara kontinu. Langkah ini diharapkan tidak hanya mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga memberikan nilai ekonomi dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak berharga atau bahkan bersifat merugikan lingkungan.
Prof. Ir. Didi Dwi Anggoro, M.Eng., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., guru besar Fakultas Teknik Universitas Diponegoro ini merupakan penemu DIPOFuel yang revolusioner ini. Pakar reaksi kimia katalis ini bersama tim dari DIPOFuel, didukung LPPM Undip, serta tiga mahasiswa bimbingannya merancang dan mengembangkan alat pirolisis modular yang mengolah limbah plastik tanpa oksigen, dipadukan dengan katalis hasil riset sesuai kepakaran beliau.
Setelah sukses mengolah sampah plastik umum, tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Didi Dwi Anggoro kini berhasil mengembangkan teknologi konversi limbah segel tangki Pertamina menjadi bahan bakar berkualitas tinggi dengan nilai oktan (RON) 96. Terobosan terbaru ini dipaparkan langsung oleh Prof. Didi dalam pembaruan riset yang dilakukan pada 12 Januari 2026 kepada mitra yaitu PERTAMINA. Fokus utama pengembangan saat ini adalah mengatasi beban lingkungan di Depot PERTAMINA Pengapon melalui pemanfaatan limbah segel tangki yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Prof Didi berharap DIPOFuel ini segera diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan pengelolaan sampah di masyarakat. Melalui riset pengembangan kolaboratif berkelanjutan ke depannya, DIPOFuel berpotensi besar diperkenalkan lebih luas baik di dalam maupun luar negeri. “Inilah wujud nyata dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi Undip. Kami berharap teknologi ini dapat direplikasi di tingkat masyarakat atau industri kecil untuk mengatasi persoalan sampah di Indonesia,” tambah Prof. Didi.
Pada kesempatan lain, Direktur Direktorat Inovasi dan Kerja Sama (DIRINOVKI) Undip, drh. Dian Wahyu Harjanti PhD, menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada tim inventor DIPOFuel. “Penemuan DIPOFuel ini merupakan wujud kontribusi nyata Universitas Diponegoro dalam memperkuat visi Undip berorientasi pada inovasi dan teknologi, sekaligus bentuk penerapan riset teknologi hijau yang diharapkan berdampak langsung pada kelestarian lingkungan serta memperkokoh kemandirian energi nasional”, tutup Direktur DIRINOVKI.